Terima Kasih Telah Mau Berkunjung

Emansipasi yang Terlampau

Pernah dengar nggak emansipasi? Itu tuh, sebuah kata sakti untuk melegalitas semua aktivitas wanita yang ingin disejajarkan dengan laki-laki.

Pada awalnya ide ini sangat luhur dan memang sangat dibutuhkan dikala keadaan Indonesia diperbodohkan oleh sebuah penjajahan. Seorang wanita yang halus budi bahasa, (sok tahu ah, emang sudah lahir waktu itu?) RA Kartini, putri keraton yang sedih melihat nasib kaumnya yang selalu dipojokkan dan dipersalahkan dan hanya menjadi teman di dapur dan kasur.

Atas ide-ide dan prakarsa beliau akhirnya wanita kini bisa menikmati pendidikan dan hampir bisa menduduki setiap lini dan divisi yang biasa dihuni kaum lelaki.
Bahkan sekarang muncul namanya wanita karir, wanita ini, wanita itu dan tak sedikit ahli-ahli diberbagai bidang yang muncul dari kaumnya hawa ini.
Tapi ironisnya, kesuksesan ini banyak yang menjadikan para dewi dunia ini menjadi kehilangan waktu dan kontrol untuk keluarga yang notabene merupakan sebuah koloni kecil yang menjadi tanggung jawab utamanya dalam mengikat emosi dan tempat berlabuh.

Memang salah kalau wanita ingin maju? Si Wati yang berkacamata setebal 1 centi tak terima.

Tak ada yang salah wanita ingin maju dan memang sudah seharusnya sebagai seorang perawat dan pembimbing anak dan keluarga harus maju dalam tanda kutip maju pemikiran bukan maju aktifitasnya diluar rumah.
Wanita boleh saja terbang sejauhmana dia mampu tapi tugas dalam rumah harus diutamakan.

Dan dalam sebuah keluarga suami adalah seorang imam yang harus diikuti dan ditaati si istri. Sang istri boleh jadi seorang direktris atau pemimpin organisasi yang disegani tapi dalam keluarga ia tetaplah seorang wakil. Dan wakil hanya bisa memberi nasihat bukan membuat keputusan penting tanpa persetujuan si ketua.

Sekarang banyak sekali kita lihat pemandangan yang terbalik, Dengan istilah emansipasi, sang istri yang memiliki pengaruh lebih besar di luar rumah lalu ingin mengembangkan pengaruhnya ke dalam rumah dengan menuntut adanya suksesi kepala keluarga.
Si suami berganti tugas jadi tukang cuci dan urut ketika dia letih pulang kerja. Si suami tak ubahnya sang jongos yang harus menyediakan secangkir kopi dipagi hari dan tak boleh membantah perintahnya.

Kenapa semua bisa terjadi?
Kebebasan emansipasi wanita yang disalahgunakan. Wanita merasa berhak untuk sukses dan disejajarkan melebihi laki-laki. Argumen ini yang akhirnya menjadikan wanita tanpa kontrol, ingin terus dan terus maju beraktifitas diluar rumah hingga ada yang terlupakan (keluarganya tertinggal jauh dibelakang).

Menurutku (please deh, dilarang protes. Hehehe), wanita diciptakan Tuhan dengan segala keindahan fisik dan kelembutan hati sedang lelaki tercipta dengan kekuatan fisik dan keteguhan hati. Ini tentu bukan tanpa maksud Tuhan menciptakan demikian.

Sebuah organisasi yang baik diperlukan pembagian tugas yang baik dan saling mendukung (bukan mengganti) sehingga akan tercapai sebuah tujuan. Demikian juga keluarga, harus ada pemimpin dan yang dipimpin, harus ada yang kerjakan tugas A dan tugas B.

Dengan kelembutan dan kehati-hatian serta keindahan maka sebuah bibit bisa tumbuh dengan baik dan menjadi pohon yang indah.
Dengan kekuatan orang bisa berusaha mencari biaya untuk perawatan dan melindungi bibit dari serangan hama.
Jadi, figur seorang wanita yang baik sangat dibutuhkan dalam membesarkan anak dan mendidiknya, sedang figur seorang lelaki sangat dibutuhkan untuk membiayai segala kebutuhan dalam melindungi anggotanya dari kepunahan.

Kenapa wanita yang harus mengandung dan menyusui sang anak? Bukankah ini bukti untuk menumbuhkan kedekatan emosional sang anak dengan sang ibunya. Jadi peran ibu di rumah tangga sangat penting melebihi kepentingan perannya diluar rumah. (Masak Bapak yang harus menyusui anaknya.. ).

Kalau begitu, kerja wanita hanya ngurus keluarga saja? Trus apa gunanya kerja keras RA Kartini. Dan Bagaimana kalau silaki-laki tak mampu mencukupi kebutuhan keluarga, apa harus menerima kekurangan dengan segala keterpaksaan? Wati kembali protes, ia tetap nggak terima kaumnya dipersalahkan, sudah banting tulang mencukupi kekurangan kebutuhan masih juga dianggap nggak betul.

Eit, jangan salah sangka dulu. Kan sudah dibilang dalam keluarga harus ada pembagian tugas dan bisa saling mendukung atau membantu bukan saling mengganti.
Namanya mendukung alias membantu porsinya tentu tak penuh, dan kewajiban pokok tetap harus dilaksanakan jika sudah selesai membantu.

Boleh saja wanita bekerja membantu mencukupi kebutuhan keluarga tapi bila sudah tiba waktunya kekewajiban pokok (dirumah, red) ya tetap harus dilaksanakan jangan mentang-mentang sudah merasa yang membiayai maka berhak menanggalkan status imam sang suami.

Kalau gitu enak di lelaki dong? Lagi-lagi si Wati ngenkel bin bantah (dasar keras kepal..)

Lha iya...(sorry salah tulis). Kalau tugas sudah dibagi dan sama-sama dilaksanakan tentunya tak akan ada yang merasa enak dan tak enak. Ini namanya tanggung jawab. So, sebagai lelaki jangan mentang-mentang jadi imam terus seenaknya main perintah hingga ganti celana pun minta dibantu. Lelaki harus bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya mencari nafkah diluar rumah dan jika memang tak bisa alias belum mampu jangan memaksa untuk digantikan, dibantu boleh. Kalau siistri sudah susah-susah membantu tugasnya ya jangan segan-segan membantu tugas siistri merawat keluarga.

Sekali lagi membantu, bukan menggantikan. (Gimana jadinya kalau suami harus menggantikan tugas hamil dan menyusui, welehweleh).

Kayaknya aku juga sudah pening dan bingung mau menulis apa lagi, soalnya aku sendiri belum tahu tugasku sampai saat ini.

Kalau ada yang mau protes, marah atau mencak-mencak silahkan ditulis lalu masukkan keamplop dan lem rapat-rapat. Eit, jangan lupa disisipkan dengan satu lembar uang seratus ribu.

1 comment:

  1. dah pengalaman banget jadi imam rumah tangga kayaknya.jadi pgn berguru neh

    ReplyDelete

POSTINGAN TERBARU



KOMENTAR KAWAN




Kutunggu Komentarmu ....